41. AL HASIB (Dzat Yang Maha Membuat Perhitungan) Sebelum Allah Ta’ala memberikan sesuatu kepada hamba-hambaNya terlebih dahulu Dia perhitungkan dari sisi manfaat dan mudhoratnya. Baik dari segi harta, ilmu, tenaga dan lain sebagainya. Apabila Allah Ta'ala memberikan sesuatu kepada hamba-Nya justru akan membawa kemudhoratan bagi hamba-Nya tersebut, maka Allah Ta’ala tidak akan memberinya. Dan apabila pemberian-Nya akan membawa manfa’at bagi hambaNya maka Allah Ta’ala akan memberinya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mau menerima kebaikan Allah Ta’ala ini sehingga dia cenderung untuk berburuk sangka kepada Allah Ta’ala. Padahal apapun yang Allah Ta’ala berikan adalah untuk menyelamatkannya didunia dan diakhirat. Sebagai contohnya ada seseorang yang ingin sekali menjadi orang yang kaya, akan tetapi Allah Ta’ala menjadikannya orang yang miskin (berkecukupan). Biasanya dia akan berkeluh kesah dan berburuk sangka kepada Allah Ta’ala. Padahal andaikata Allah Ta’ala menjadikan dia sebagai orang yang kaya, maka dia akan melampaui batas dimuka bumi sehingga akan menjerumuskannya masuk kedalam neraka. Contoh yang lain ada seseorang yang ingin sekali menjadi seorang polisi, akan tetapi Allah Ta’ala justru menjadikannya sebagai karyawan. Biasanya dia akan berburuk sangka kepada Allah Ta’ala dan selalu berkeluh kesah. Padahal andaikata dia menjadi polisi, dia akan menjadi polisi yang dzolim sehingga akan menjerumuskannya masuk kedalam neraka. Begitupun juga dengan yang lain. Karena apa yang kita sangka baik, belum tentu baik dimata Allah Ta’ala, dan apa yang kita sangka buruk belum tentu buruk dimata Allah Ta’ala. Firman Allah Ta’ala dalam Surat Al Baqarah (2) : 216 216. Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Ta’ala mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Perhitungan Allah Ta’ala adalah sangat tepat, tidak kurang dan tidak lebih walau sedikitpun. Apabila pemberian-pemberian Allah kita lihat secara duniawi, banyak sekali yang tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu. Akan tetapi kalau kita lihat secara ukhrowi, ternyata sangat sesuai dan banyak sekali amal-amal yang ditawarkan. Karena kesulitan apapun yang Allah berikan tenyata terdapat amal yang besar didalamnya. Bahkan semakin sulit yang kita terima maka semakin besar pula amalnya. Rasulullah bersabda : “Yang paling berat menerima ujian adalah kami para nabi, setelah itu orang yang dibawahnya, dibawahnya, dibawahnya lagi, sehingga orang kafir tidak diberi ujian tetapi azab”. Apabila kita perhatikan banyak orang-orang yang tidak beriman dalam mencari harta menggunakan berbagai macam cara tidak peduli halal atau haram, tetapi mereka tidak mendapatkan peringatan. Akan tetapi kalau orang beriman yang sedikit saja melakukan kesalahan langsung mendapat peringatan. Berarti dalam hal ini Allah menginginkan agar kita selamat nanti diakhirat. Bahkan Allah menciptakan syetan juga ada gunanya bagi manusia. Apabila kita mau memohon perlindungan kepada Allah serta tidak menuruti langkah-langkahnya niscaya akan mendapatkan amal. Sehingga terujilah keimanan seseorang disebabkan adanya setan tersebut. Jadi semua ciptaan-ciptaan (pemberian) Allah berdasarkan pertimbangan yang sangat tepat. Oleh sebab itu kita harus ikhlas dan jangan berkeluh kesah atas segala pemberian Allah serta menggunakannya untuk kepentingan akhirat. Sebagai contohnya kita gotong royong yang datang hanya orang delapan. Kalau kita lihat secara duniawi kita akan susah, akan tetapi kalau kita lihat secara ukhrowi kita justru bersyukur. Karena dengan sedikit yang datang kita akan memperoleh amal yang banyak. Jadi apapun yang diberikan Allah pasti bermanfaat untuk kehidupan akhirat. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak pemberian-pemberian Allah Ta'ala yang kita terima, yang justru mendatangkan mudhorat kepada diri kita? Karena banyak kita gunakan untuk memenuhi keinginan hawa nafsu dan kedurhakaan kepada Allah Ta'ala. Apabila kita berfikir dengan kejernihan hati, maka tidak ada satupun dari pemberian Allah Ta'ala yang menjadikan kemudhoratan bagi diri kita. Akan tetapi terkadang manusia menyalahkan pemberian Allah Ta'ala itu tidak sesuai baginya. Mereka menginginkan kaya, akan tetapi kekayaan itu akan mendatangkan kemudhoratan baginya. Atau Allah Ta'ala memberikan kemiskinan kepadanya, justru kemiskinan itu membawa manfaat baginya. B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang ridho dengan apa yang Engkau berikan kepada kami, karena pemberian-Mu kepada kami pastilah bermanfaat untuk kami dan tidak ada kemudhoratan sedikitpun. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa apapun yang diberikan Allah Ta'ala kepadanya adalah pasti yang bermanfaat, dan apa-apa yang tidak diberikan oleh Allah Ta'ala adalah pasti tidak bermanfaat (akan membawa mudhorat). D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa akan menggunakan pemberian-pemberian Allah Ta'ala untuk melakukan amal-amal sholeh, sehingga bermanfaat untuk dirinya dikehidupan akhirat nanti. Pada dasarnya apapun yang diberikan Allah Ta'ala pasti bermanfaat. Akan tetapi manusia itu sendiri yang membuatnya tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat. Karena pemberian Allah Ta'ala dipakainya untuk memperturutkan hawa nafsunya. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, bantulah kami agar kami dapat memanfaatkan segala pemberian-Mu untuk melakukan segala apa yang Engkau perintahkan dan menjauhi segala apa yang Engkau larang, serta menambah amal ibadah dan amal sholeh kami. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal akan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala atas segala sesuatu yang dia butuhkan. Karena dia yakin bahwa apa-apa yang bermanfaat pasti akan diberi oleh Allah Ta'ala dan apa-apa yang tidak bermanfaat tidak akan diberi oleh Allah Ta'ala. Selama ini Allah Ta'ala sering membuktikan Al HasibNya kepada kita. Yaitu pada saat kita butuh, maka apa yang kita butuhkan tersebut diberi oleh Allah Ta'ala. Akan tetapi pada saat kita tidak butuh, maka Allah Ta'ala tidak memberi. Hal ini membuktikan bahwa Allah Ta'ala memberi sesuatu kepada kita apabila sudah bermanfaat. Oleh sebab itu orang-orang yang bertawakkal akan menyerahkan segala sesuatunya hanya kepada Allah Ta'ala, biarlah Allah Ta'ala yang mengatur pemberian-Nya kepada dirinya. Akan tetapi bagi orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya, dia selalu meminta apa-apa yang tidak dibutuhkan (tidak bermanfaat), padahal apabila diberi oleh Allah Ta'ala, maka dia akan melampaui batas dan akan bergantung dengan pemberian Allah Ta'ala tersebut. Dan jika demikian, maka dia akan celaka diakhirat kelak. G. Sikap Orang Mukhlis Dia akan menerima dengan ikhlas apa-apa yang Allah Ta'ala berikan kepadanya dan bersabar dengan apa-apa yang belum Allah Ta'ala berikan kepadanya. Sedikitpun dia tidak pernah berkeluh kesah apalagi menyalahkan Allah Ta'ala. Karena dia yakin bahwa apa-apa yang Allah Ta'ala berikan pasti bermanfaat dan apa-apa yang belum Allah Ta'ala berikan pasti tidak bermanfaat. Sehingga dia-pun sangat bersyukur kepada Allah Ta'ala. Ibaratnya kita ingin membeli mangga. Tetapi kita tidak tahu mana mangga yang manis dan mana mangga yang asem. Kemudian ada orang yang memilihkan mangga itu dan ternyata apa yang dia pilihkan adalah mangga yang manis. Tentunya kita akan merasa senang dan berterima kasih kepadanya. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Hasib Apabila ia sudah menjadi kholifah, maka apabila melakukan suatu tindakan terlebih dahulu diperhitungkan dari sisi manfaat dan mudharatnya. Ia selalu berupaya agar manfaatnya 100% dan mudharatnya 0%. Terkadang orang lain melihat ia seperti orang yang kikir, tetapi sebenarnya ia betul-betul ingin melakukan sesuatu dengan kekholifahannya yaitu menghindari kemudharatan dan mengupayakan kemanfaatan sebesar-sebesarnya. Maksudnya adalah, apabila dipertimbangkan manfaatnya besar, maka sebesar dan sebanyak apapun akan ia keluarkan. Tetapi apabila dipertimbangkan mudharatnya besar, maka sekecil apapun tidak akan ia keluarkan. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Hasib Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk memberikan sebagian dari harta kami bagi kemanfaatan manusia dan bukan untuk kemudhoratan mereka. Sehingga mereka dapat melihat bahwa segala sesuatu yang Engkau berikan pastilah bermanfaat bagi mereka, asalkan mereka mempergunakannya untuk sebuah ketaqwaan.